A PRAGMATIC ANALYSIS OF ILLOCUTIONARY ACTS IN THE DEVIL’S ADVOCATE PODCAST FEATURING GURU GEMBUL
Kata Kunci:
Pragmatics, Speech Act, Illocutionary Act, Searle, Podcast DiscourseAbstrak
Penelitian ini mengkaji tindakan ilokusi dalam episode Devil's Advocate Podcast (dalam Bahasa Indonesia) bersama Guru Gembul, khususnya dalam penggunaan bahasa untuk melakukan tindakan sosial dalam diskursus pendidikan dan ideologis. Berakar pada pragmatik, penelitian ini mengadopsi Teori Tindakan Ucapan Searle dalam menganalisis bagaimana suatu ucapan berfungsi melampaui makna literalnya dalam menyatakan pendapat, mengajak bertindak, mengekspresikan komitmen, atau sikap psikologis. Dalam penelitian ini, para peneliti menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data meliputi ucapan-ucapan terpilih yang diambil dari transkrip. Analisis menunjukkan bahwa tindakan representatif merupakan jenis tindakan ilokusi yang paling dominan dalam data. Dominasi ini menunjukkan bahwa pembicara primarily menggunakan bahasa untuk membangun argumen dan menyajikan evaluasi sistem pendidikan Indonesia sebagai pernyataan kenyataan. Tindakan direktif digunakan untuk mendorong refleksi dan tindakan kolektif, sementara tindakan komisi menunjukkan komitmen pribadi dan tanggung jawab terhadap perubahan di masa depan. Tindakan ekspresif berfungsi untuk mengungkapkan sikap emosional dan memperkuat keaslian diskursus. Secara mencolok, tidak ada tindakan deklaratif yang teridentifikasi, menunjukkan bahwa pembicara tidak memiliki otoritas institusional untuk melaksanakan perubahan melalui bahasa saja, melainkan bergantung pada strategi persuasif dan argumentatif. Studi ini menunjukkan bahwa tindakan ucapan memainkan peran krusial dalam membentuk diskursus podcast: kritik, ideologi, dan keterlibatan sosial. Temuan ini berkontribusi pada studi pragmatik dengan menyoroti fungsi tindakan ilokusi dalam media digital saat ini, khususnya podcast sebagai platform untuk diskursus publik.
This study investigates the illocutionary acts in Devil's Advocate Podcast (In Bahasa Indonesia) episode with Guru Gembul, particularly in using language to conduct social acts within educational and ideological discourse. Rooted in pragmatics, this present research adopts Searle's Speech Act Theory in analyzing how an utterance functions beyond its literal meaning in asserting opinion, inviting action, expressing commitment, or psychological attitude. In this study, the researchers adopt a descriptive qualitative approach. Data include selected utterances taken from the transcript. The analysis reveals that representative acts are the most dominant type of illocutionary acts found in the data. This dominance indicates that the speaker primarily uses language to construct arguments and present evaluations of the Indonesian education system as statements of reality. Directive acts are used to encourage collective reflection and action, while commissive acts demonstrate personal commitment and responsibility toward future change. Expressive acts function to reveal emotional stance and strengthen the authenticity of the discourse. Notably, no declarative acts are identified, suggesting that the speaker does not possess institutional authority to enact change through language alone, but instead relies on persuasive and argumentative strategies. This overall study shows that speech acts play a crucial role in framing podcast discourse: criticism, ideology, and social engagement. The findings contribute to pragmatic studies by signaling the function of illocutionary acts in current digital media, particularly podcasts as platforms for public discourse.