REPRESENTATION OF LEGAL INJUSTICE AGAINST A YOUNG GIRL WITH AN IMPRISONED PARENT IN 2ND MIRACLE IN CELL NO. 7: A STUDY OF REPRESENTATION AND SEMIOTICS

Penulis

  • Ida Ayu Nisawati Universitas Pendidikan Nasional
  • Dewa Ayu Trisna Adhiswari Wedagama Universitas Pendidikan Nasional

Kata Kunci:

Representasi, Ketidakadilan Hukum, Anak, Disabilitas, Semiotika, Film Indonesia

Abstrak

Penelitian ini menganalisis representasi ketidakadilan hukum dalam film 2nd Miracle in Cell No. 7 dengan meninjau dua puluh penelitian relevan serta menerapkan teori representasi Stuart Hall, semiotika Roland Barthes dan John Fiske, serta paradigma naratif Walter Fisher. Hasil analisis menunjukkan bahwa film ini menggambarkan secara kuat ketimpangan hukum yang menimpa keluarga marginal dan penyandang disabilitas, khususnya berdampak pada anak perempuan dari orang tua berstatus pidana. Relasi kuasa dan bias institusional ditampilkan melalui citra aparat hukum sebagai simbol penindasan, sementara tanda-tanda visual seperti pencahayaan gelap, ruang interogasi sempit, dan ekspresi ketakutan menjadi konotasi trauma dan stigma sosial. Melalui narasi emosional antara ayah dan anak, film ini membangun fidelitas moral penonton serta menyampaikan kritik terhadap sistem hukum yang tidak berpihak pada kelompok rentan. Penelitian ini berkontribusi dalam memperluas kajian representasi anak dan keadilan gender di sinema Indonesia, sekaligus menegaskan peran film sebagai media advokasi sosial dan refleksi terhadap nilai kemanusiaan.

This study analyzes the representation of legal injustice in the film 2nd Miracle in Cell No. 7  by reviewing twenty relevant studies and applying Stuart Hall’s representation theory, Roland Barthes and John Fiske’s semiotics, and Walter Fisher’s narrative paradigm. The findings reveal that the film strongly portrays the inequality within the legal system affecting marginalized families and individuals with disabilities, particularly the impact on a daughter whose parent is imprisoned. Power relations and institutional bias are depicted through law enforcement figures as symbols of oppression, while visual signs such as dark lighting, confined interrogation spaces, and expressions of fear connote trauma and social stigma. Through the emotional bond between father and daughter, the narrative builds moral fidelity among viewers and delivers a critique of a justice system that neglects vulnerable groups. This research contributes to the broader study of child representation and gender justice in Indonesian cinema while emphasizing the role of film as a medium of social advocacy and reflection on humanitarian values.

Unduhan

Diterbitkan

2025-11-30