ANALISIS PENGELUARAN PENYAKIT KATASTROPIK DI KOTA MEDAN
Kata Kunci:
Pembiayaan Kesehatan, Penyakit Katastropik, Jaminan Kesehatan NasionalAbstrak
Pertumbuhan penduduk Indonesia yang pesat dan pergeseran struktur demografis menuju populasi yang menua telah meningkatkan kebutuhan pembiayaan kesehatan yang berkelanjutan dan merata. Salah satu tantangan utama adalah tingginya beban penyakit katastropik yang memerlukan biaya besar dan berisiko menimbulkan kemiskinan medis, terutama bagi kelompok miskin dan rentan. Penelitian ini merupakan tinjauan literatur terhadap publikasi lima tahun terakhir yang membahas inovasi pembiayaan kesehatan di Indonesia, dengan fokus pada pengeluaran akibat penyakit katastropik. Hasil sintesis terhadap enam studi menunjukkan bahwa program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) belum sepenuhnya efektif dalam memberikan perlindungan finansial yang merata, dengan ketimpangan akses dan manfaat antara wilayah berkapasitas fiskal tinggi dan rendah. Faktor risiko seperti pendapatan rendah, ukuran keluarga besar, lokasi pedesaan, dan keberadaan penyakit kronis terbukti meningkatkan kerentanan terhadap pengeluaran kesehatan katastropik. Pandemi COVID-19 semakin memperburuk tekanan fiskal dan menguji keberlanjutan skema pembiayaan kesehatan. Diperlukan reformasi struktural yang mencakup peningkatan keadilan distribusi dana, integrasi pendanaan pusat-daerah, penguatan layanan kesehatan dasar, serta strategi promotif-preventif yang menyasar kelompok rentan. Temuan ini menegaskan pentingnya sistem pembiayaan kesehatan yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan untuk menghadapi tantangan demografis dan krisis kesehatan di masa depan.
The rapid population growth in Indonesia, coupled with a demographic shift toward an aging population, has intensified the need for sustainable and equitable health financing. One of the major challenges lies in the high burden of catastrophic diseases, which require substantial costs and pose a significant risk of medical impoverishment, particularly among poor and vulnerable groups. This study presents a literature review of publications from the past five years addressing innovative health financing in Indonesia, with a focus on expenditures related to catastrophic diseases. A synthesis of six studies reveals that the National Health Insurance (Jaminan Kesehatan Nasional/JKN) program has not yet been fully effective in providing equitable financial protection, with disparities in access and benefits between regions with high and low fiscal capacities. Risk factors such as low income, large household size, rural residence, and the presence of chronic diseases significantly increase vulnerability to catastrophic health expenditures. The COVID-19 pandemic further exacerbated fiscal pressures and tested the sustainability of the health financing scheme. Structural reforms are needed to improve equity in fund distribution, integrate central and regional financing, strengthen primary health care, and implement promotive-preventive strategies targeting vulnerable populations. These findings highlight the urgency of developing a health financing system that is inclusive, adaptive, and sustainable in addressing demographic challenges and future health crises.




