KAJIAN MAKNA DALAM PERTUNJUKAN WAYANG KULIT BROTOYUDO DEWO PICEK OLEH KI SENO NUGROHO DI PLATFORM YOUTUBE BAGONG NGGLELENG REBORN
Kata Kunci:
Wayang Kulit, Makna, Semiotika Roland Barthes, Ki Seno Nugroho, YoutubeAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna yang terkandung dalam pertunjukan wayang kulit Brotoyudo Dewo Picek oleh Ki Seno Nugroho yang ditayangkan pada kanal YouTube Bagong NggelĂȘng Reborn. Fokus penelitian diarahkan pada pemaknaan tanda, simbol, dan narasi yang muncul dalam pertunjukan tersebut. Pertunjukan wayang kulit sebagai warisan budaya adiluhung Jawa tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media penyampai nilai-nilai filosofis, moral, dan sosial. Seiring perkembangan teknologi digital, pertunjukan wayang kulit mengalami transformasi media, salah satunya melalui platform YouTube. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif- analitis. Data diperoleh melalui teknik dokumentasi berupa rekaman video pertunjukan, dialog antartokoh, serta unsur visual dan audio yang relevan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teori semiotika Roland Barthes yang meliputi tingkat makna denotasi, konotasi, dan mitos untuk mengungkap makna yang tersirat di balik tanda-tanda pertunjukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertunjukan Brotoyudo Dewo Picek mengandung makna yang kompleks dan berlapis. Pada tingkat denotasi, pertunjukan merepresentasikan konflik peperangan dan pertentangan antar tokoh dalam cerita Mahabharata. Pada tingkat konotasi, konflik tersebut memuat pesan moral tentang kekuasaan, keadilan, kesetiaan, serta kebijaksanaan dalam menghadapi pertentangan. Sementara itu, pada tingkat mitos, pertunjukan ini merefleksikan pandangan hidup masyarakat Jawa mengenai keseimbangan antara kekuatan lahir dan batin, serta pentingnya kebijaksanaan sebagai landasan kepemimpinan. Melalui media YouTube, Ki Seno Nugroho berhasil merekonstruksi makna tradisional wayang kulit agar tetap relevan dengan konteks masyarakat modern tanpa menghilangkan nilai-nilai filosofisnya. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa pertunjukan wayang kulit di media digital tidak hanya berperan sebagai sarana pelestarian budaya, tetapi juga sebagai medium komunikasi simbolik yang efektif dalam menyampaikan nilai-nilai kehidupan kepada khalayak yang lebih luas.




