DINAMIKA INKLUSI KEUANGAN SYARIAH DAN INFLASI DALAM MENGURANGI TINGKAT KEMISKINAN: STUDI TENTANG MASYARAKAT DI KAWASAN MASJID BESAR BAITURRAHMAN, BANDA ACEH

Penulis

  • Ryanda Fariq Yassar Universitas Syiah Kuala
  • Teuku Samsir Muharram Universitas Syiah Kuala

Kata Kunci:

Inklusi Keuangan Syariah, Inflasi, Kemiskinan, Baitul Mal, Banda Aceh

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika inklusi keuangan Islam serta tingkat inflasi dalam upaya pengentasan kemiskinan di kawasan Masjid Al-Baiturrahman, Banda Aceh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya permintaan masyarakat akan akses terhadap layanan keuangan yang sesuai syariah serta dampak tekanan inflasi terhadap daya beli dan kesejahteraan. Data diperoleh melalui kuesioner yang dibagikan kepada tiga kelompok masyarakat: UMKM, pekerja dengan penghasilan di bawah upah minimum regional (UMR), dan penerima bantuan Baitul Mal. Hal ini dilakukan untuk memperoleh gambaran empiris mengenai hubungan antara inklusi keuangan syariah, inflasi, dan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akses ke lembaga keuangan syariah memainkan peran signifikan dalam meningkatkan stabilitas ekonomi masyarakat di sekitar Masjid Agung Baiturrahman. Skor rata-rata inklusi keuangan syariah mencapai 4,4, yang dikategorikan sebagai “setuju,” yang menunjukkan tingginya tingkat partisipasi, pemahaman, dan kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan syariah. Namun, inflasi tetap menjadi tantangan yang signifikan, dengan skor rata-rata 4,6 untuk indikator kenaikan harga bahan pokok, yang menunjukkan bahwa fluktuasi harga berdampak signifikan terhadap pendapatan dan daya beli masyarakat berpenghasilan rendah. Secara keseluruhan, inklusivitas keuangan syariah telah terbukti berkontribusi dalam mengurangi kerentanan ekonomi masyarakat miskin, terutama melalui peningkatan akses terhadap pembiayaan, tabungan syariah, dan bantuan sosial berbasis zakat. Namun, penelitian ini juga menunjukkan perlunya dukungan kebijakan yang lebih kuat untuk menjaga stabilitas harga dan memperluas literasi keuangan syariah. Oleh karena itu, sinergi antara lembaga keuangan syariah, pemerintah daerah, dan Baitul Mal (Bank Sentral Syariah) merupakan kunci strategis untuk mempercepat pengentasan kemiskinan di Banda Aceh.

This study aims to analyze the dynamics of Islamic financial inclusion and inflation rates in reducing poverty in the Baiturrahman Grand Mosque area, Banda Aceh. This research was motivated by the increasing public demand for access to Sharia-compliant financial services and the impact of inflationary pressures on purchasing power and well-being. Data were obtained through questionnaires distributed to three community groups: MSMEs, workers with incomes below the minimum wage (UMR), and Baitul Mal (Baitul Mal) assistance recipients. This was done to obtain an empirical picture of the relationship between Islamic financial inclusion, inflation, and the community's socioeconomic conditions. The results indicate that access to Islamic financial institutions plays a significant role in improving the economic stability of the community around the Baiturrahman Grand Mosque. The average Islamic financial inclusion score reached 4.4, categorized as "agree," indicating a high level of public participation, understanding, and trust in the Islamic financial system. However, inflation remains a significant challenge, with an average score of 4.6 for the staple food price increase indicator, indicating that price fluctuations significantly impact the income and consumption capacity of low-income communities. Overall, Islamic financial inclusion has been proven to contribute to reducing the economic vulnerability of the poor, particularly through increased access to financing, Islamic savings, and zakat-based social assistance. However, the research also indicates the need for stronger policy support to maintain price stability and expand Islamic financial literacy. Therefore, synergy between Islamic financial institutions, local governments, and the Baitul Mal (Islamic Central Bank) is a strategic key to accelerating poverty alleviation in Banda Aceh.

Unduhan

Diterbitkan

2026-10-31