GEDUNG SATE SEBAGAI PUSAT MODAL BUDAYA KOTA BANDUNG: ANALISIS MULTIPLIER EFFECT SEKTOR PARIWISATA TERHADAP PERTUMBUHAN UMKM DAN PENINGKATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH

Penulis

  • Aninda Raisha Yufan Universitas Pasundan
  • RM. Rangga Aditya Putra Universitas Pasundan
  • Nisye Safira Fauzyah Universitas Pasundan
  • Rendi Priyana Universitas Pasundan
  • Latifah Al Hakim Rosmanda Universitas Pasundan
  • Rizqi Syah Putra Universitas Pasundan
  • Firly Aiman Universitas Pasundan
  • Nurfianty Diva Universitas Pasundan

Kata Kunci:

Gedung Sate, Modal Budaya, Multiplier Effect, UMKM, PAD, Analisis Kualitatif

Abstrak

Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Gedung Sate sebagai modal budaya dalam mendorong ekosistem ekonomi lokal di Kota Bandung. Fokus penelitian diarahkan pada mekanisme efek pengganda pariwisata terhadap UMKM serta implikasinya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, dokumentasi, dan wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan terkait. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gedung Sate berfungsi sebagai penggerak aktivitas ekonomi berbasis budaya yang memperkuat sektor UMKM, khususnya kuliner dan kriya. Namun, masih terdapat kendala kelembagaan berupa keterbatasan akses informasi perizinan dan kurangnya integrasi antara kebijakan pariwisata dan pemberdayaan UMKM. Penelitian ini menekankan pentingnya penguatan tata kelola untuk mengoptimalkan kontribusi aset budaya terhadap PAD.

This study aims to analyze the role of Gedung Sate as cultural capital in driving the local economic ecosystem of Bandung City. The research focuses on the mechanism of the tourism multiplier effect on micro, small, and medium enterprises (MSMEs) and its implications for local government revenue (Locally Generated Revenue/LGR). A qualitative research design with a case study approach was employed. Data were collected through field observations, document analysis, and in-depth interviews with key stakeholders. Data analysis was conducted using the Miles and Huberman interactive model. The findings indicate that Gedung Sate functions as a catalyst for culture-based economic activities, particularly strengthening MSMEs in the culinary and handicraft sectors. However, institutional constraints remain, including limited access to licensing information and weak integration between tourism policies and MSME empowerment programs. This study highlights the importance of strengthening governance frameworks to optimize the contribution of cultural assets to local government revenue.

 

Unduhan

Diterbitkan

2026-01-30