PERAN NILAI KEPASUNDANAN DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL: STUDI KASUS UMKM DI KECAMATAN CIBADUYUT KOTA BANDUNG
Kata Kunci:
Nilai Kepasundanan, UMKM, Ekonomi Lokal, Modal Sosial, Budaya LokalAbstrak
Latar Belakang: Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan tulang punggung perekonomian daerah, namun tantangan modernisasi dan digitalisasi mengancam keberlanjutan UMKM berbasis budaya lokal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi nilai kepasundanan dalam aktivitas UMKM serta menganalisis perannya terhadap pengembangan ekonomi lokal di Kecamatan Cibaduyut Kota Bandung. Metode: Pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus digunakan, melibatkan 12 informan dari empat kategori (5 pelaku UMKM, 2 tokoh masyarakat, 2 aparat pemerintah, 3 konsumen) yang diwawancarai selama periode Januari–Maret 2025. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman dengan triangulasi sumber dan teknik. Hasil: Nilai kepasundanan—silih asah, silih asih, silih asuh, someah hade ka semah, dan gotong royong—masih diterapkan secara aktif dan terbukti memperkuat solidaritas ekonomi, meningkatkan loyalitas konsumen, serta memperluas jaringan usaha. Simpulan: Pelestarian nilai kepasundanan dalam kegiatan ekonomi UMKM berkontribusi signifikan terhadap pembangunan ekonomi lokal yang berkelanjutan dan penguatan identitas budaya Sunda di Kota Bandung.
Background: Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) serve as the backbone of regional economies; however, modernization and digitalization threaten the sustainability of culture-based MSMEs. Objective: This study aims to describe the implementation of Sundanese cultural values in MSME activities and analyze their role in local economic development in Cibaduyut District, Bandung City. Method: A qualitative approach using a case study method was employed, involving 12 informants from four categories (5 MSME actors, 2 community leaders, 2 government officials, 3 consumers) interviewed during the period of January–March 2025. Data analysis used the Miles and Huberman model with source and technique triangulation. Results: Sundanese values—silih asah, silih asih, silih asuh, someah hade ka semah, and mutual cooperation—are still actively practiced and have proven to strengthen economic solidarity, increase consumer loyalty, and expand business networks. Conclusion: The preservation of Sundanese cultural values in MSME economic activities contributes significantly to sustainable local economic development and the strengthening of Sundanese cultural identity in Bandung City.


